BPJPH dan Jalan Panjang Sertifikasi Halal di Indonesia

Lahirnya tulisan ini karena kecintaan saya kepada Negara Republik Indonesia sebagai negara yang berketuhanan Yang Maha Esa yang melahirkan gerakan halal dalam rangka membangun budaya halal, yakni halal life style di Indonesia.

Tulisan ini juga hasil kajian saya secara normatif berdasarkan Undang-Undang No mor 33/2014 tentang Ja – minan Produk Halal (selanjutnya disebut UU JPH) beserta pe r – aturan pemerintah yang saat ini prosesnya hanya tinggal me – nunggu pengesahan dari pre – siden, kemudian diundangkan.

Melalui artikel ini saya ingin sampaikan pendapat saya terkait UU JPH, peraturan pemerin tah dan hadirnya Badan Penye lenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH).

Pertama, mengenai tumpang tindihnya peraturan perundang-undangan pada sektor Kementerian Agama Republik Indonesia.

Diundangkannya UU JPH ber implikasi pada beralihnya kewenangan sertifikasi halal yang sebelumnya berada di Majelis Ulama Indonesia (MUI) menjadi kewenangan BPJPH. Hal ini sesuai definisi yuridis BPJPH yang terdapat pada Pasal 1 angka 6 UU JPH. Bunyi pa – salnya, “Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal yang se – lan jutnya disingkat BPJPH adalah badan yang dibentuk oleh pemerintah untuk me nye – lenggarakan JPH.”

Kewenangan menerbitkan dan mencabut sertifikat halal juga diberikan UU JPH dalam Pasal 6, termasuk permohonan sertifikasi halal yang akan di – ajukan oleh pelaku usaha dan di tujukan kepada BPJPH (Pasal 29 ayat [1] UU JPH), walaupun secara teknis BPJPH mem bu tuhkan kerja sama dengan MUI.

Kerja sama di la – ku kan karena hanya MUI yang akan mene tap kan kehalalan suatu produk yang ditetapkan dalam sidang fatwa halal, baru kemudian hasil penetapan MUI tersebut disampaikan ke – pada BPJPH un tuk menjadi dasar pener bit an sertifikat halal (lihat ket en tuan Pasal 33 UU JPH).

Berbanding terbalik dengan ke beradaan BPJPH, yang dibentuk berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 83/2015 tentang Kementerian Agama yang kemudian diresmikan pada 10 Oktober 2017, LPPOM MUI telah hadir selama 30 Tahun sebagai lembaga sertifikasi halal di Indonesia.

Dasar Kewenangan MUI sebagai lembaga sertifikasi ha – lal yakni Keputusan Menteri Ag ama Nomor 518/2001 tentang Pedoman dan Tata Cara Pe meriksaan dan Penetapan Pa ngan Halal dan Keputusan Men teri Agama Nomor 519/ 2001 tentang Lembaga Pelaksana Pemeriksaan Pa ngan Halal, yang pada pokoknya kedua ke ten tuan ter se but menguat kan pem berian kewenangan kepada MUI sebagai lembaga sertifikasi halal.

Pada Pasal 3 angka 1 huruf b KMA Nomor 518 Tahun 2001 ten tang Pe – doman dan Tata Cara Pe me rik sa an dan Pe – netapan Pangan Halal disebutkan se ba gai berikut: b. “Sertifikasi halal dari Ma je lis Ulama In – do nesia atau lem baga ser tifikasi luar negeri yang diakui Majelis Ulama Indonesia yang menyatakan bah wa pemoto ngan hewan dilakukan ber da sarkan hukum Islam, dalam hal menyangkut produk pangan yang menggunakan bahan dari hewan.”

Kemudian, dalam Pasal 1 KMA Nomor 519/2001 tentang Lembaga Pelaksana Pe merik saan Pangan Halal, disebut de – ngan tegas, “Menunjuk Majelis Ulama Indonesia sebagai lem – baga pelaksana peme riksaan pangan yang dinyatakan halal, yang dikemas untuk diper da – gang kan di Indonesia.”

Saat ini kedua KMA tersebut belum dicabut, yakni KMA 518 dan 519. Kementerian Agama yang menjadi leading sector dalam UU JPH, sesuai Pasal 66 UU JPH, bahwa semua per atur – an mengenai kehalalan produk sebelum undang-undang ini di – ben tuk maka dinyatakan ma sih tetap berlaku, mem buk ti kan adanya ketidakcermatan dalam penyusunan UU JPH.

Keti dak – cermatannya yaitu ma sih ada – nya pem be rian/pe lim pah an we wenang dalam menjalankan sertifikasi halal di In do nesia, yang mengakibatkan ter jadi – nya tumpang tindih pada ketentuan peraturan per un – dang-undangan di ranah ke we – nangan Kementerian Agama.

Kedua, mengenai jangka waktu pembentukan peraturan pemerintah yang telah melewati jangka waktu yang di perintahkan oleh UU JPH.

Hingga saat ini peraturan pe me rintah masih belum diter bit kan, de – ngan demikian, jika melihat ke – tentuan Pasal 65 UU JPH, ter – bitnya peraturan pelak sana da – lam hal ini salah satunya ada lah peraturan pe me rin tah, di ke – mudian hari akan me nim – bul kan potensi di aju – kan nya judicial review ke Mahkamah Agung.

Bunyi Pasal 65 UU JPH: “Per aturan pelaksanaan Un – dang-Undang ini harus di te – tapkan pa ling lama 2 (dua) tahun ter hitung sejak un – dang-undang ini diun – dangkan.” Artinya, jang – ka waktu penerbitan per – aturan pemerintah yang di – amanatkan UU JPH telah lewat, mengingat UU JPH diun dang kan pada 17 Oktober 2014 yang berarti saat ini telah memasuki usianya yang kelima tahun.

Ketiga, mengenai kemunduran sistem sertifikasi halal di Indonesia.

Kewenangan ser tifikasi halal yang telah dimiliki oleh MUI selama 30 tahun menjadikan MUI sebagai suatu lembaga yang me miliki kom petensi dan pengalaman yang sangat baik dalam hal sertifikasi halal, bahkan telah mendapatkan sertifikasi dari KAN dan sederet lem baga sertifikasi kelas dunia.

Ser tifikasi halal yang dijalankan LPPOM MUI de ngan Standar HS 23000 dan aplikasi ITE dengan sis tem CEROL telah berjalan de ngan sangat baik, mekanisme dan sistem yang ter integrasi telah diterapkan oleh MUI dalam menjalankan kewenangannya.

Terbitnya UU JPH membuat ada nya transisi kewenangan ser tifikasi halal, sesuai ke ten – tuan Pasal 59 dan 60 UUJPH, maka BPJPH sebagai lembaga baru yang akan menjalankan fungsi sebagai badan sertifikasi halal, masih belum memiliki pengetahuan dan pengalaman yang baik untuk menjalankan kewenangan ini.

Dalam Pasal 67 UU JPH me – ngatur adanya kewajiban lima tahun sejak UU JPH diun dang – kan dan atau disahkan, artinya terhitung sejak Oktober 2019 kewajiban sertifikat halal ber – laku, namun adanya ketentuan mengenai diatur secara ber ta – hap dan jenis produk mana saja yang dilakukan secara ber ta – hap, dapat dilihat dalam ran ca – ngan peraturan pemerintah (RPP).

Berdasarkan RPP JPH produk-produk yang akan di – masukkan dalam kategori ber – ta hap diatur pada Pasal 57 RPP JPH, Pasal 60, Pasal 61 dan Pasal 63 RPP JPH. Maka, pengaturan yang de – mi kian ini dapat dilihat sebagai bentuk ketidaksiapan BPJPH untuk menjalankan fungsinya sebagai badan sertifikasi halal dalam sistem JPH, yang dapat dikaji dari ketentuan yang ter – da pat pada Pasal 67 ayat (2) UU JPH, “(2) Sebelum kewajiban besertifikat halal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ber laku, jenis produk yang be ser ti fi kat halal diatur secara ber tahap.”

Menjadi sebuah kemunduran jika sekarang saja sudah ada suatu lembaga sertifikasi halal yang sudah berpengalaman selama 30 tahun yang juga telah didukung dengan kerja sama yang terintegrasi baik dengan Kementerian Agama, Ke men te – rian Kesehatan, Badan POM, berbagai kementerian terkait bahkan LPPOM MUI sudah merecognize dan memberikan sa – ling pengakuan kepada lem ba ga sertifikasi halal luar negeri (saat ini sudah 57 negara), lalu sertifikasi halal akan dibuat mundur lagi, yakni akan dila ku kan secara bertahap oleh lemb a ga baru (BPJPH).

Seharusnya pe nerapan sertifikasi halal se cara bertahap itu harus dimulai sejak undangundang ini diberlakukan. Kalau secara bertahapnya baru dimulai terhitung dari sejak terbitnya peraturan pe – me rintah, maka akan terjadi mun dur lagi beberapa tahun ke be la kang.

Artinya, sertifikasi un tuk produk tertentu yang di – atur dalam peraturan peme rin – tah secara bertahap tetap ber – sifat voluntary atau tidak wajib sertifikasi. Maka, akan terjadi inkonsistensi dengan sema – ngat UU JPH yang bersifat mandatory sertifikasi halal. Dengan demikian, pengaplika sian sertifikat halal serta pen – cantuman logo halal di In don e – sia masih akan me nem puh se – buah jalan yang makin panjang.

Keempat, pengakuan lembaga internasional sebagai lembaga sertifikasi halal (recognised foreign halal certification bodies & authorized ) dan kerja sama luar negeri.

Selama ini MUI telah mendapatkan pengakuan an – tar lembaga internasional s – ebagai lembaga sertifikasi halal, yaitu kewenangan MUI ter se – but telah dilucuti dengan UU JPH di antaranya melalui Pasal 6 huruf d UU JPH; Pasal 6 huruf j UUJPH; Pasal 47 UUJPH; BAB IV RPP JPH dimulai dari Pasal 44 s/d Pasal 51.

Majelis Ulama Indonesia me – miliki tekad untuk memberikan perlindungan kepada kon su – men, khususnya umat Islam, de – ngan cara memberikan kepast ian atas produk ha lal. Salah sa – tunya dilakukan de ngan cara melakukan kerja sama inter nasional dengan be be rapa lem – baga halal man ca ne gara untuk melakukan ser tifikasi halal.

Sejauh ini MUI telah men ja – lin kerja sama dengan lebih dari 57 negara dalam hal sertifikasi halal. Ini membuat MUI me n – jadi suatu lembaga yang telah di – akui secara internasional men – jadi lembaga yang menaungi sertifikasi halal di Indonesia, sekaligus menjadi kiblat dunia internasional dalam bidang sertifikasi halal.

Menjadi masalah atau polemik jika hal tersebut diatur ulang, yang dapat memberikan potensi merugikan pelaku usaha, baik dalam negeri mau pun luar negeri, termasuk juga dapat merugikan lembaga ser tifikasi halal luar negeri yang selama ini telah mendapat peng akuan dari MUI se bagai lem baga sertifikasi halal Indo nesia.

IKHSAN ABDULLAH
Direktur Eksekutif Indonesia Halal Watch

Leave a Reply

Your email address will not be published.